Pesut Mahakam "Lion" Mati Setelah Tiga Dekade Menghuni Sungai

img

Proses Evakuasi bangkai pesut Mahakam Lion.

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Lebih dari tiga dekade ikan pesut bernama  Lion hidup di aliran Sungai Mahakam sebelum akhirnya ditemukan mati di perairan Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Selasa (5/5/2026).

Pesut Mahakam jantan yang telah teridentifikasi sejak 1999 itu menjadi salah satu penghuni lama sungai terbesar di Kalimantan Timur sekaligus bagian dari populasi satwa langka yang kini terus menyusut.

Kepala  Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, mengatakan informasi mengenai penemuan pesut mati pertama kali beredar melalui media sosial warga.

Laporan tersebut kemudian diteruskan oleh Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) kepada pihaknya untuk segera ditindaklanjuti.

Tim gabungan bersama Pokdarwis Desa Pela kemudian bergerak menyusuri aliran sungai hingga akhirnya menemukan tubuh Lion mengapung tidak jauh dari lokasi laporan warga.

Evakuasi dilakukan lebih dulu oleh Pokdarwis Desa Pela karena berada paling dekat dengan titik penemuan.

“Karena lokasi Pokdarwis Desa Pela paling dekat, mereka yang lebih dulu melakukan evakuasi,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Di rakit konservasi itu, tubuh Lion ditutup menggunakan terpal dan diberi es batu guna memperlambat proses pembusukan sebelum dokter hewan tiba.

Sore harinya, nekropsi dilakukan untuk mengetahui kemungkinan penyebab kematian satwa endemik Sungai Mahakam tersebut. Sejumlah sampel organ dan jaringan diambil untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium di Samarinda.

“Untuk memastikan penyebab kematiannya, kami masih menunggu hasil laboratorium,” ujarnya.

Bagi Yayasan RASI dan para pemerhati lingkungan, Lion bukan pesut biasa. Ia telah lama menjadi bagian dari kehidupan Sungai Mahakam dan beberapa kali terlihat di kawasan perairan habitat pesut.

Kehadirannya selama ini turut menjadi penanda bahwa ekosistem sungai masih menopang kehidupan mamalia air tawar langka tersebut.

Namun, ancaman terhadap habitat pesut belum sepenuhnya hilang, pencemaran sungai, aktivitas illegal fishing, hingga kerusakan lingkungan masih terus membayangi kelangsungan hidup satwa endemik Kalimantan Timur itu.

Data terbaru Yayasan RASI mencatat, sebelum Lion ditemukan mati, populasi Pesut Mahakam tersisa 66 ekor. Kini jumlahnya kembali berkurang menjadi 65 ekor.

Angka tersebut memperlihatkan betapa rentannya keberadaan mamalia air tawar yang hidup di Sungai Mahakam.

Syarif mengatakan, beberapa kasus kematian pesut sebelumnya bahkan ditemukan berkaitan dengan kandungan racun di dalam tubuh satwa.

Karena itu, pihaknya kembali mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem Sungai Mahakam agar tetap menjadi habitat aman bagi pesut dan biota lainnya.

“Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan illegal fishing seperti meracun atau menyetrum ikan, serta tidak membuang sampah ke sungai,”pungkasnya. (kris)